Seringkali saya dengar ucapan 'mengikuti jejak Nabi' saat orang membicarakan poligami. Alasannya Nabi pun dulu melakukannya, jadi sah sah saja bila pengikutnya mengikuti. Terus terang saya bukan pakar tentang agama. Tapi banyak topik berkenaan dengan gender mengundang untuk dijadikan pertanyaan/ refleksi.
Ketika saya membaca cerita tentang perempuan di Saudi Arabia yang katanya tidak boleh bekerja, saya bertanya mengapa? Bukankah dulu istri pertama nabi seorang pengusaha? Bukankah istri nabi yang lain ikut berperang?
Ketika saya mendengar bahwa pendapat perempuan tidak dihargai, saya bertanya mengapa?
Bukankah dulu nabi selalu berkonsultasi dengan istrinya?
Ketika orang memilih mengambil istri kedua yang muda belia, saya bertanya mengapa? Bukankah nabi pun ketika menikah dengan Khotijah melakukan monogami? Bukankah nabi akhirnya melakukan poligami karena situasi perang melulu saat itu hingga banyak janda kehilangan suami di medan perang ? Selain Aisya, jelas-jelas nabi kawin lagi dengan janda-janda beranak banyak. Sedangkan pria-pria pendukung poligami yang katanya melihat contoh nabi, ogah memperistri janda beranak banyak.
Mengapa orang cenderung memilih mengikuti nabi hanya bila kaum pria mendapat angin saja? Sungguh sayang semangat emansipasi Sang nabi tidak diusung oleh pengikutinya sendiri...
Atau kita bisa mulai dengan perkawinan dimana pengantin prianya lebih muda dari pengantin wanitanya? Kan itu juga mengikuti jejak nabi. ;)