Archive
|
|
Tuesday, August 09, 2005
Miskonsepsi tentang G-spot
Istilah Gräfenberg spot, atau lebih populer dikenal sebagai G-spot, muncul pertama kali tahun 1982. Diambil dari nama Ernst Gräfenberg, karena orang-orang berpikir bahwa ia orang pertama yang menulis tentang G-spot pertengahan abad lalu. Tapi penamaan itu tidak tepat. Betul Gräfenberg menulis buku, tapi ia sama sekali tidak pernah menyinggung soal keberadaan G-spot. Ia sekedar menulis bahwa ada perempuan yang bisa mencapai puncak kepuasan seksual dengan cara memasukkan pin ke dalam saluran kencing (ngeri amat yak).
Kepopuleran G-spot lebih berpijak pada mitos yang tumbuh subur daripada fakta karena sampai hari ini keberadaannya tidak pernah dibuktikan.
Posted at 8/9/2005 9:17:59 pm by Dodolix
Permalink
Miskonsepsi tentang G-spot
Saturday, August 06, 2005
Apakah ejakulasi pernah tidak menjadi krisis? Nyata-nyata sepanjang ingatan manusia topik yang membuat orang kasak-kusuk tidak jauh-jauh dari urusan kelamin. Dari 1001 tips, anjuran sampai larangan dan tabu. Dari Serat Centhini dan Kama Sutra (dari 9 bab, cuma 1 bab yang membahas soal posisi) sampai majalah Cosmo dan For Him Magazine. Dari histeria dan neurastenia temuan Freud sampai penis kayu yang dijejer di tempat praktek Mak Erot.
Walau penulis pribadi berpendapat bahwa kontribusi Freud yang paling besar adalah tulisannya tentang analisa mimpi (bukan tafsir mimpi, kalau urusan tafsir lebih baik cari Primbon) dan proses bawah sadar manusia, yang paling beken tentu saja teori seksnya (yeah, apa lagi?!?).
Bolak-balik teriak bahwa perempuan adalah laki-laki yang tidak sempurna karena ia melihat kelamin perempuan sebagai penis yang terkebiri. "Karena perempuan adalah laki-laki yang tidak sempurna, maka sudah selayaknya perempuan mencari laki-laki (baca: penis). Waktu anak-anak dalam figur ayah, lalu dalam figur suami dan anak laki-lakinya alias Oedipus complex." Rupanya fakta bahwa setiap janin, baik perempuan maupun laki-laki, selalu mulai sebagai perempuan di dalam rahim, belum diketahui saat ia hidup.
Ajaibnya, Freud selalu bisa melihat benda-benda di sekitarnya sebagai simbol dari penis. Dari ular, tongkat, pena, sampai payung. Yang terakhir tentu membuat perempuan serba salah di hari hujan, bawa payung nanti dibilang obsesi dengan penis, sedang tanpa payung bisa masuk angin.
Pikir punya pikir, laki-laki produksi era Viktoria atau produksi era Mak Erot berjaya tidak banyak berbeda dalam pola pikir seputar urusan kelamin. Sejak dulu tidak jauh-jauh dari "krisis" penis - ejakulasi.
Apakah narcisism pun adalah daerah dominasi kaum pemilik penis? Seks sudah bukan seks lagi, tapi altar pemujaan di mana kelamin menjadi sesuatu di luar sana.
Posted at 8/6/2005 1:22:00 am by Dodolix
Permalink
"Krisis ejakulasi"
Thursday, August 04, 2005
Have you ever wondered why our teeth chatter when we are cold? Why do men have nipples?
Well, thanks to the newest book "Why Do Men Have Nipples", co-authored by a New York physician Billy Goldberg and a humorist Mark Leyner, we can now know the answers of some of our burning questions.
Chattering teeth is a sign that the body is generating heat.
As the body gets too cold, the hypothalamus will send a message to the rest of the body to start generating heat. This is done by shivering, a rapid movement of muscle. Chattering teeth is simply a localized shivering.
And the answer to why men have nipples is, because we are all starting life in a similar way in the embryo following a female template. It wasn't until the sixth week when the male sex chromosome started to kick in. By that time, the nipples are already developed. I remembered textbooks telling us that the central nervous system and the internal organs were the first to be developed in the womb. Yet, nipples seem important enough that guys also have to live with them.
Posted at 8/4/2005 7:39:36 pm by Jailix
Permalink
Why do men have nipples?
Tuesday, August 02, 2005
To swallow or not to swallow
It seems like something guys would told you to get their way in the bedroom department. But it was a real research done by scientists at Free University of Amsterdam. There are quite a number of women experiencing Preeclampsia, a condition where the blood pressure increase (to dangerous level) during the (mostly first) pregnancy. It is thought that the woman's body becoming intoxicated by its pregnancy. According to the study it is easy to prevent it happening. It's a question of swallowing the sperm, or intra-oral ejaculation as the scientists put it.
Participants of this study who swallowed their partner's sperm experienced less pregnancy intoxication than those who didn't. It is said that the woman's body treats the sperm as foreign object. By swallowing their partner's sperm, the body is getting more tolerance to it. Therefore, the fetus antigens is less likely to be treated as foreign object by the woman's body.
What I can't understand is why swallowing the sperm leads to more tolerance than the vaginal ejaculation.
Posted at 8/2/2005 7:11:16 pm by Jailix
Permalink
To swallow or not to swallow
Wednesday, July 27, 2005
Seorang kawan pernah berkomentar, "Kalo cowo brengsek ye, paling enak tuh disumpahin supaya ereksi terus kagak bisa turun. Baru deh nyaho!"
Waktu itu penulis cuma ngakak bareng-bareng, ga ambil pusing karena belum pernah ketemu kasus semacam itu. Di telinga awam mungkin malah terdengar sebagai masalah mewah. Yang sering muncul toch kasus laki-laki mencari obat untuk menambah potensial "kejantanan" karena niat ada tapi kemampuan kurang. Dari jamu tokcer Madura sampai Viagra, Cialis dkk. Dari yang mitos sampai yang terbukti secara sains. Walau penulis berpendapat bahwa NIAT itu sendiri perlu dipertanyakan. Contohnya, niat tidak lihat-lihat usia (sudah renta masih perlu merasa perlu membuktikan kejantanan, karena tidak punya kemampuan lain?), niat selingkuh, atau niat-niat lain.
Priapismus, nama keren dari ereksi yang tidak mau turun lebih dari 4 jam, diambil dari nama dewa dalam mitologi Yunani, Priapos. Dewa ini selalu digambarkan dengan alat kelamin kebesaran. Saking besar/ beratnya, sampai-sampai Priapos tidak bisa bergerak lagi sejak saat itu. Dalam tradisi Yunani kuno patung Priapos sering dipakai sebagai penjaga gerbang. Mereka percaya jika ada orang berniat tidak baik, Priapos cukup mengangkat kain penutup auratnya maka orang tersebut akan ketakutan dan lari terbirit-birit.
Hari ini ada kasus ereksi yang sudah 24 jam ga mau turun-turun. Ternyata kasus semacam ini termasuk dalam kategori GAWAT DARURAT. Ereksi bukan lagi jadi fenomena yang diidam-idamkan tapi mengganggu bahkan membuat sakit. Belum lagi ditambah rasa malu saat harus bilang ke dokter.
Penyebabnya bisa bermacam-macam, dari efek samping obat/ drugs, masalah dengan pembuluh darah atau syaraf, trombose, obat ereksi (nah lho, siapa yang suka cari-cari obat "jantan"?), atau stimulasi yang berlebihan (masturbasi).
Apa pun penyebabnya, Anda harus secepat mungkin pergi ke dokter walau dengan menanggung malu. Ereksi terus-menerus lebih dari 6 jam bisa merusak corpus cavernosum (jaringan yang terisi darah saat ereksi). Bukan mustahil kemungkinan jaringan tersebut rusak permanen sehingga bisa membuat impoten. Kalau sudah begini, jamu Madura yang paling ampuh pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Posted at 7/27/2005 2:56:51 pm by Dodolix
Permalink
Ereksi atau non-ereksi?
|
|
|